Sinergitas Pentahelix dalam Rehabilitasi Ekosistem Pesisir: Restorasi Mangrove Berbasis Kolaborasi Akademisi dan Pemerintah Daerah di Kecamatan Moramo, Konawe Selatan
DOI:
https://doi.org/10.56742/jpm.v5i2.285Keywords:
Bio-Shield Pesisir; Konservasi; Mitigasi Abrasi; Rhizophora sp.; Tri Dharma PTAbstract
Degradasi ekosistem pesisir akibat perubahan tata guna lahan dan aktivitas antropogenik memerlukan intervensi strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Artikel ini mendokumentasikan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Halu Oleo (FPIK UHO), dalam upaya restorasi ekosistem mangrove di pesisir Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif yang mengintegrasikan peran akademisi, pemerintah daerah, instansi militer (TNI-AL), dan masyarakat lokal. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa melalui penanaman 6.000 bibit mangrove jenis Rhizophora sp. pada area seluas 0.6 hektar, dengan tingkat kelulushidupan (survival rate) mencapai 75% setelah enam bulan, serta partisipasi aktif lebih dari 200 individu dari berbagai elemen pentahelix, keterlibatan aktif civitas akademika FPIK UHO, yang didukung oleh kebijakan Pemerintah Kabupaten Konawe Selatan, mampu mempercepat proses rehabilitasi lahan kritis. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai upaya konservasi biofisik, tetapi juga sebagai media edukasi ekologis dan penguatan kesadaran kolektif terhadap jasa ekosistem mangrove dalam mitigasi perubahan iklim dan perlindungan garis pantai. Data kuantitatif ini menegaskan keberhasilan intervensi dalam mencapai tujuan restorasi yang terukur.





